Kritik Pedas Pengangguran SMK NTB : Pengamat Sebut Jubir Iqbal Dinda Pakai “Kacamata Kuda”

Spread the love

Mataram NTB, bidikankameranews.com –
Pasca debat perdana Pilgub NTB 2024 menyisakan sejumlah narasi yang terus jadi perbincangan publik.

Diantaranya soal data pengangguran terbuka lulusan SMK yang disebut petahana calon Gubernur NTB Nomor 2 Dr H Zulkieflimansyah sebesar 2,3 % yang dikritik oleh Dr Ahmad Munjizun selaku Juru bicara Paslon 3 Iqbal Dinda.

Bak gayung bersambut, kritik Dr Ahmad Munjizun ini belakangan dkritisi oleh Pemerhari Pendidikan NTB Okza Hendriadi MA.

Menurut Okza, dirinya mengaku prihatin dan merasa geli mendengar kritik Juru bicara Iqbal Dinda tentang pengangguran lulusan SMK di NTB.

Okza menilai Kritik Munjizun layaknya pandangan memakai kaca mata kuda karena hanya berfokus pada data statistik, tanpa melihat intervensi nyata yang sudah diterapkan.
“ ini bisa dimaklumi karena beliau (Dr Ahmad Munjizun,red) adalah Doktor lulusan Equine Science (Sains Kuda,red). Dalam ilmu komunikasi, tindakan tersebut dikenal istilah “selektif persepsi”, yaitu kecenderungan seseorang hanya melihat data yang mendukung pandangannya sendiri, tanpa mempertimbangkan gambaran besar,”paparnya.

Kontekstualisasi dan Relevansi

Okza kembali menyitir pandangan sang jubir soal data Badan Pusat Statistik (BPS) yang dijadikan rujukan bahwa pengangguran di kalangan lulusan SMK lebih tinggi dibandingkan dengan lulusan dari tingkat pendidikan lainnya, seperti SD, SMP, SMA, dan perguruan tinggi.

“Tentu saja, data ini tidak salah. Data BPS mencatat Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) di NTB sebesar 8,24% untuk lulusan SMK pada tahun 2023. Namun, jika kita meneliti lebih dalam, data ini adalah potret keseluruhan yang mencakup lulusan dari berbagai tahun, termasuk produk dari pemerintahan sebelumnya yang tidak dalam program revitalisasi SMK,” ulasanya.

Menurutnya, justru Dr Zulkieflimansyah atau Bang Zul, calon gubernur NTB petanana, mengeluarkan pernyataan yang sebenarnya sangat beralasan dan menyebutkan tingkat pengangguran lulusan SMK adalah 2,3% penelusuran terbaru yang oleh Kemendikbud pada lulusan SMK tahun 2023 di NTB.

“Artinya, data ini lebih kontekstual dan relevan dengan hasil intervensi nyata yang dilakukan Bang Zul melalui Peraturan Gubernur (Pergub) Nomor 75 Tahun 2020 tentang Revitalisasi SMK,” beber alumni Magister Universiti Teknologi MARA, Malaysia ini.

Revitalisasi SMK : Membuka Jalan Baru bagi Lulusan SMK

Okza lebih lanjut memaparkan, dalam penelusurannnya menemukan sejumlah fakta.
Sebut saja bagaimana pada tahun 2020, Bang Zul menginisiasi sebuah langkah yang berani dengan mengeluarkan Pergub Nomor 75/2020 tentang Revitalisasi SMK.

Pergub ini, katanya, meliputi 11 poin penting yang mencakup berbagai aspek. Program utama yang dilaksanakan adalah Refocusing Core SMK untuk memperkuat fokus pendidikan kejuruan, serta SMK BLUD yang bertujuan mendukung operasional mandiri sekolah.

Kemudian ada Teaching Factory yang menyediakan pengalaman belajar praktis berbasis industri bagi siswa, serta Kelas Startup yang mendorong setiap siswa untuk memiliki usaha sendiri melalui program “1 Siswa 1 Usaha.”

Menurut Okza, kolaborasi dengan industri ini diwujudkan melalui Kemitraan atau Link and Match yang menghubungkan sekolah dengan berbagai perusahaan untuk membuka akses magang dan peluang kerja bagi siswa. Program Pemasaran Tamatan/BKK Internal (Bursa Kerja) juga aktif menyalurkan lulusan SMK ke dunia kerja, studi lanjut, atau wirausaha.

“Dalam upaya memperkaya pengalaman belajar, program Guru Tamu/Industri Mengajar menghadirkan para profesional dari dunia industri sebagai pengajar tamu, dan Magang Guru memberikan kesempatan bagi para guru untuk magang di industri agar dapat memperbarui wawasan mereka. Selain itu, siswa dapat memperoleh pengakuan kompetensi melalui Sertifikasi Lulusan melalui LSP P1, yang membantu mereka lebih siap menghadapi dunia kerja,” paparnya seraya menambahkan adanya Program Budaya Kerja atau Sabtu Budaya yang dimaksudkan untuk menanamkan etos kerja, dan Kunjungan Industri/Wisata Belajar memberikan siswa kesempatan melihat langsung lingkungan industri.

“Keseluruhan program ini membentuk siswa SMK yang lebih kompeten, mandiri, dan siap menghadapi tuntutan dunia kerja.
Inisiatif ini bertujuan untuk memastikan bahwa lulusan SMK memiliki keterampilan yang relevan dengan kebutuhan pasar kerja dan mampu beradaptasi di dunia kerja,” sebut Okza.

Disisi lain, dia juga menemukan fakta salah satu bukti nyata keberhasilan program tersebut yakni “Kelas Startup” (1 Siswa 1 Usaha) yang berkembang pesat dari 0 siswa pada 2022 menjadi 2.328 siswa pada 2023.

Peningkatan ini, katanya, menunjukkan bahwa banyak siswa kini termotivasi untuk berwirausaha sejak dini, yang merupakan langkah strategis untuk mengurangi pengangguran di kalangan lulusan SMK.

Di sisi lain, kemitraan dengan industri melalui program “Link and Match” yang meningkat dari 347 mitra pada 2022 menjadi 748 pada 2023 menegaskan pentingnya hubungan antara dunia pendidikan dan industri untuk membuka akses yang lebih luas bagi siswa SMK dalam hal magang, bimbingan, dan kesempatan kerja.

Dengan peningkatan drastis pada sertifikasi lulusan, dari 1.475 siswa pada 2022 menjadi 8.198 siswa pada 2023, dapat disimpulkan bahwa revitalisasi SMK benar-benar berdampak pada kualitas lulusan. Mereka lebih siap masuk ke dunia kerja dengan sertifikasi kompetensi yang diakui.

“Secara keseluruhan, data ini mendukung argumen bahwa program revitalisasi SMK di NTB efektif dalam meningkatkan kompetensi, keterampilan, dan kesiapan siswa SMK untuk memenuhi tuntutan dunia kerja modern,” ungkap Okza.

Sebagai pemerhati pendidikan, Okza menilai Pendekatan Munjizun yang hanya melihat data BPS tanpa memeriksa keberhasilan program revitalisasi adalah contoh klasik dari “kacamata kuda”.

“Ia terfokus pada data yang statis dan mengabaikan hasil positif dari program yang diinisiasi oleh Bang Zul. Ini sejalan dengan teori yang disampaikan oleh Paul Krugman dalam “The Age of Diminished Expectations” di mana statistik kadang-kadang bisa menyesatkan ketika digunakan tanpa mempertimbangkan konteks dan perubahan dinamis di lapangan,” paparnya.

Intervensi Pendidikan dan Ketenagakerjaan

Okza juga menemukan fakta bahwa banyak ahli sepakat pengangguran di kalangan lulusan SMK tidak hanya disebabkan oleh keterbatasan lapangan pekerjaan, tetapi juga oleh ketidakcocokan keterampilan yang dimiliki lulusan dengan kebutuhan industri.

Ia menyitir temuan International Labour Organization (ILO) yang menyatakan bahwa revitalisasi pendidikan vokasional adalah salah satu cara untuk mengatasi ketimpangan antara keterampilan dan kebutuhan pasar.

“Inilah yang dilakukan oleh Bang Zul dengan program revitalisasi SMK yang mencakup kurikulum berbasis kebutuhan pasar,”tandasnya.

Hal ini, lanjut Okza, diperkuat oleh hasil penelitian dari Asian Development Bank (ADB) yang berjudul “Reaping the Benefits of Industry 4.0 Through Skills Development in Indonesia”.

Kajian ini merupakan bagian dari riset di empat negara yaitu Filipina, Indonesia, Kamboja dan Vietnam yang menunjukkan bahwa pelatihan keterampilan yang relevan dengan industri dapat secara signifikan mengurangi tingkat pengangguran pada lulusan pendidikan vokasi. Program Bang Zul yang bekerja sama dengan sektor industri adalah contoh konkret dari penerapan teori ini.

“Jika Munjizun memahami konteks ini, seharusnya ia bisa melihat bahwa revitalisasi SMK di NTB telah membawa perubahan positif yang signifikan,” cetusnya dan menegaskan bahwa Pengembangan dan revitalisasi SMK bukanlah kebijakan yang memberikan hasil instan.

“Butuh waktu dan kesinambungan agar dampaknya benar-benar terlihat pada data statistik keseluruhan,” demikian Okza. (*)


Spread the love

Tinggalkan Balasan

Next Post

Zul - Uhel Gagas "Ruang Publik Kreatif"

Kam Okt 31 , 2024
Spread the love      Mataram NTB, bidikankameranews.com –Kebutuhan akan ruang kreatif yang mendukung aktivitas dan minat kelompok muda semakin tinggi, tidak terkecuali […]
content-1701

sabung ayam online

yakinjp

yakinjp

rtp yakinjp

slot thailand

yakinjp

yakinjp

yakin jp

yakinjp id

maujp

maujp

maujp

maujp

sabung ayam online

sabung ayam online

judi bola online

sabung ayam online

judi bola online

slot mahjong ways

slot mahjong

sabung ayam online

judi bola

live casino

sabung ayam online

judi bola

live casino

SGP Pools

slot mahjong

sabung ayam online

slot mahjong

SLOT THAILAND

article 138000586

article 138000587

article 138000588

article 138000589

article 138000590

article 138000591

article 138000592

article 138000593

article 138000594

article 138000595

article 138000596

article 138000597

article 138000598

article 138000599

article 138000600

article 138000601

article 138000602

article 138000603

article 138000604

article 138000605

article 138000606

article 138000607

article 138000608

article 138000609

article 138000610

article 138000611

article 138000612

article 138000613

article 138000614

article 138000615

article 138000616

article 138000617

article 138000618

article 138000619

article 138000620

article 138000621

article 138000622

article 138000623

article 138000624

article 138000625

article 138000626

article 138000627

article 138000628

article 138000629

article 138000630

article 138000631

article 138000632

article 138000633

article 138000634

article 138000635

article 138000636

article 138000637

article 138000638

article 138000639

article 138000640

article 138000641

article 138000642

article 138000643

article 138000644

article 138000645

article 138000646

article 138000647

article 138000648

article 138000649

article 138000650

article 138000651

article 138000652

article 138000653

article 138000654

article 138000655

article 138000656

article 138000657

article 138000658

article 138000659

article 138000660

article 138000661

article 138000662

article 138000663

article 138000664

article 138000665

article 138000666

article 138000667

article 138000668

article 138000669

article 138000670

article 138000671

article 138000672

article 138000673

article 138000674

article 138000675

article 158000426

article 158000427

article 158000428

article 158000429

article 158000430

article 158000436

article 158000437

article 158000438

article 158000439

article 158000440

article 208000456

article 208000457

article 208000458

article 208000459

article 208000460

article 208000461

article 208000462

article 208000463

article 208000464

article 208000465

article 208000466

article 208000467

article 208000468

article 208000469

article 208000470

208000446

208000447

208000448

208000449

208000450

208000451

208000452

208000453

208000454

208000455

article 228000306

article 228000307

article 228000308

article 228000309

article 228000310

article 228000311

article 228000312

article 228000313

article 228000314

article 228000315

article 238000301

article 238000302

article 238000303

article 238000304

article 238000305

article 238000306

article 238000307

article 238000308

article 238000309

article 238000310

article 238000311

article 238000312

article 238000313

article 238000314

article 238000315

article 238000316

article 238000317

article 238000318

article 238000319

article 238000320

article 238000321

article 238000322

article 238000323

article 238000324

article 238000325

article 238000326

article 238000327

article 238000328

article 238000329

article 238000330

article 238000331

article 238000332

article 238000333

article 238000334

article 238000335

article 238000336

article 238000337

article 238000338

article 238000339

article 238000340

article 238000341

article 238000342

article 238000343

article 238000344

article 238000345

article 238000346

article 238000347

article 238000348

article 238000349

article 238000350

article 238000351

article 238000352

article 238000353

article 238000354

article 238000355

article 238000356

article 238000357

article 238000358

article 238000359

article 238000360

article 238000361

article 238000362

article 238000363

article 238000364

article 238000365

article 238000366

article 238000367

article 238000368

article 238000369

article 238000370

article 238000371

article 238000372

article 238000373

article 238000374

article 238000375

article 238000376

article 238000377

article 238000378

article 238000379

article 238000380

sumbar-238000291

sumbar-238000292

sumbar-238000293

sumbar-238000294

sumbar-238000295

sumbar-238000296

sumbar-238000297

sumbar-238000298

sumbar-238000299

sumbar-238000300

sumbar-238000301

sumbar-238000302

sumbar-238000303

sumbar-238000304

sumbar-238000305

sumbar-238000306

sumbar-238000307

sumbar-238000308

sumbar-238000309

sumbar-238000310

sumbar-238000311

sumbar-238000312

sumbar-238000313

sumbar-238000314

sumbar-238000315

sumbar-238000316

sumbar-238000317

sumbar-238000318

sumbar-238000319

sumbar-238000320

sumbar-238000321

sumbar-238000322

sumbar-238000323

sumbar-238000324

sumbar-238000325

sumbar-238000326

sumbar-238000327

sumbar-238000328

sumbar-238000329

sumbar-238000330

sumbar-238000331

sumbar-238000332

sumbar-238000333

sumbar-238000334

sumbar-238000335

sumbar-238000336

sumbar-238000337

sumbar-238000338

sumbar-238000339

sumbar-238000340

sumbar-238000341

sumbar-238000342

sumbar-238000343

sumbar-238000344

sumbar-238000345

sumbar-238000346

sumbar-238000347

sumbar-238000348

sumbar-238000349

sumbar-238000350

sumbar-238000351

sumbar-238000352

sumbar-238000353

sumbar-238000354

sumbar-238000355

sumbar-238000356

sumbar-238000357

sumbar-238000358

sumbar-238000359

sumbar-238000360

sumbar-238000361

sumbar-238000362

sumbar-238000363

sumbar-238000364

sumbar-238000365

sumbar-238000366

sumbar-238000367

sumbar-238000368

sumbar-238000369

sumbar-238000370

sumbar-238000371

sumbar-238000372

sumbar-238000373

sumbar-238000374

sumbar-238000375

sumbar-238000376

sumbar-238000377

sumbar-238000378

sumbar-238000379

sumbar-238000380

content-1701