
Sumbawa NTB, bidikankameranews.com –
Sekolah Pilar Muda hari pertama yang merupakan hasil kerja sama MPR RI bersama MY Institute berlangsung di Aula H.A. Mudji Taslim, Rabu (20/5/2026). Kegiatan tersebut diikuti oleh pelajar dan pemuda se-Kabupaten Sumbawa dengan menghadirkan pembahasan mengenai resolusi konflik serta kebijakan dan manajemen penanganan konflik tenurial kawasan hutan.
Kegiatan dimulai pada pukul 16.20 WITA dan dibuka oleh moderator Rafly Akbar Hikmawan, S.T. Sejak awal pelaksanaan, peserta tampak mengikuti seluruh rangkaian kegiatan dengan antusias. Materi yang disampaikan pada hari pertama berfokus pada peningkatan pemahaman peserta terhadap konflik yang terjadi dalam kehidupan sosial maupun konflik yang berkaitan dengan pemanfaatan kawasan hutan di Indonesia.
Pemateri pertama, Lalu Ahmad Taubih, S.AP., M.Sc., CHCM, menyampaikan materi bertajuk Resolusi Konflik. Dalam pemaparannya, ia menjelaskan bahwa konflik merupakan bagian dari kehidupan manusia yang tidak dapat dihindari. Konflik dapat muncul dalam berbagai hubungan sosial dan sering kali terjadi karena adanya perbedaan pandangan, kepentingan, maupun kebutuhan antara individu atau kelompok.
Pada awal penyampaian materi, peserta diajak memahami makna konflik melalui pertanyaan sederhana mengenai apa yang terlintas ketika mendengar kata konflik. Pertanyaan tersebut menjadi pengantar untuk membangun pemahaman peserta bahwa konflik bukan hanya berkaitan dengan pertengkaran atau kekerasan, tetapi juga merupakan situasi sosial yang sering terjadi dalam kehidupan sehari-hari.
Menurut Lalu Ahmad Taubih, pemahaman mengenai konflik sangat penting karena setiap individu akan menghadapi konflik dalam berbagai situasi kehidupan. Dengan memahami konflik secara tepat, seseorang dapat menentukan langkah yang lebih baik dalam menyelesaikan persoalan tanpa memperbesar permasalahan yang ada.
Ia menjelaskan bahwa konflik dapat muncul dalam lingkungan keluarga, organisasi, pendidikan, hingga kehidupan bermasyarakat. Oleh karena itu, kemampuan mengelola konflik menjadi salah satu keterampilan penting yang perlu dimiliki, terutama oleh generasi muda.
Dalam materinya, Lalu Ahmad Taubih juga menjelaskan konsep mengenai lima gaya atau taktik utama dalam menghadapi konflik yang dijelaskan Simon Fisher melalui buku *Working With Conflict*. Kelima gaya tersebut diperkenalkan kepada peserta sebagai bentuk pendekatan yang biasa digunakan individu maupun kelompok ketika menghadapi konflik.
Gaya pertama adalah menghindar. Dalam gaya ini, seseorang memilih menjauh dari konflik dan tidak terlibat secara langsung dalam persoalan yang terjadi. Gaya kedua adalah bersaing, yaitu berupaya memenangkan konflik sesuai kepentingan sendiri.
Selanjutnya adalah gaya mengakomodasi, yaitu lebih mengutamakan kepentingan pihak lain demi menjaga hubungan sosial. Kemudian gaya berkompromi, di mana kedua pihak sama-sama mengurangi tuntutan agar tercapai kesepakatan bersama. Sedangkan gaya terakhir adalah berkolaborasi, yakni mencari solusi terbaik yang mampu memenuhi kepentingan semua pihak secara bersama-sama.
Penjelasan mengenai lima gaya tersebut memberikan pemahaman kepada peserta bahwa setiap konflik dapat dihadapi dengan pendekatan yang berbeda. Tidak semua konflik harus diselesaikan dengan cara yang sama karena setiap persoalan memiliki situasi dan kondisi yang berbeda.
Dalam penyampaian materi, pemateri juga menekankan pentingnya komunikasi dalam penyelesaian konflik. Salah satu teknik yang diperkenalkan kepada peserta adalah teknik komunikasi asertif yang disebut I-Message atau I-Statement.
Teknik komunikasi tersebut menekankan penyampaian perasaan dan kebutuhan tanpa menyalahkan lawan bicara. Dengan cara tersebut, komunikasi diharapkan dapat berjalan lebih sehat dan tidak memicu pertengkaran yang lebih besar.
Lalu Ahmad Taubih menjelaskan bahwa terdapat tiga komponen utama dalam teknik komunikasi tersebut. Pertama adalah fokus pada hal yang dipermasalahkan. Kedua adalah menjelaskan dampak yang terjadi akibat persoalan tersebut. Ketiga adalah menyampaikan harapan sebagai solusi atau jalan keluar dari persoalan yang dihadapi.
Melalui penjelasan tersebut, peserta diajak memahami pentingnya cara berkomunikasi yang baik dalam menghadapi konflik. Teknik komunikasi asertif dinilai dapat membantu seseorang menyampaikan perasaan tanpa menimbulkan kesalahpahaman yang dapat memperburuk situasi.
Pada akhir sesi materi pertama, peserta diberikan kesempatan untuk bertanya dan berbagi pengalaman mengenai konflik yang pernah dihadapi dalam kehidupan sehari-hari. Diskusi berlangsung interaktif dan menjadi bagian dari proses pembelajaran peserta untuk memahami konflik secara lebih mendalam.
Melalui sesi diskusi tersebut, peserta tidak hanya menerima materi secara teoritis, tetapi juga diajak melihat bagaimana konflik terjadi dalam kehidupan nyata dan bagaimana solusi dapat dicari melalui komunikasi serta pemahaman yang tepat.
Sementara itu, sesi kedua dimulai pada pukul 19.40 WITA dengan menghadirkan Julmansyah, S.HUT., M.A.P sebagai pemateri. Materi yang disampaikan berjudul Kebijakan dan Manajemen Penanganan Konflik Tenurial Kawasan Hutan.
Dalam pemaparannya, Julmansyah menjelaskan bahwa Indonesia merupakan negara dengan kawasan hutan yang sangat luas dan memiliki berbagai fungsi penting. Kawasan hutan tersebut terdiri atas hutan konservasi, hutan lindung, dan hutan produksi.
Ia menjelaskan bahwa sekitar 63 persen wilayah daratan Indonesia termasuk dalam kawasan hutan. Keberadaan hutan memiliki fungsi penting sebagai penyangga kehidupan, menjaga keseimbangan lingkungan, sumber keanekaragaman hayati, serta mendukung kehidupan sosial dan ekonomi masyarakat.
Menurut Julmansyah, kawasan hutan dimanfaatkan untuk berbagai kepentingan, seperti perkebunan sawit, pertanian, pertambangan, pemanfaatan hasil hutan melalui HPH dan HTI, jasa air, geothermal, transmigrasi, hingga kebutuhan masyarakat adat dan dunia usaha.
Banyaknya aktivitas yang berlangsung di kawasan hutan menyebabkan munculnya tumpang tindih kepentingan antara pemerintah, perusahaan, dan masyarakat. Situasi tersebut kemudian memunculkan konflik tenurial kawasan hutan.
Dalam penjelasannya, konflik tenurial merupakan konflik yang berkaitan dengan penguasaan, kepemilikan, penggunaan, dan pemanfaatan lahan di kawasan hutan. Konflik ini biasanya terjadi karena adanya ketidakjelasan batas kawasan, perbedaan klaim kepemilikan lahan, serta penggunaan kawasan hutan untuk kepentingan ekonomi tertentu.
Julmansyah menjelaskan bahwa konflik tenurial dapat berdampak luas apabila tidak ditangani dengan baik. Konflik tersebut dapat menyebabkan kerusakan lingkungan, terganggunya kehidupan masyarakat, serta menimbulkan sengketa berkepanjangan.
Untuk memberikan gambaran kepada peserta, dalam sesi materi ditampilkan ilustrasi konflik tenurial di kawasan hutan yang menunjukkan adanya benturan antara kawasan hutan dengan lahan pertanian maupun permukiman masyarakat.
Selain itu, peserta juga diperlihatkan peta indikatif potensi konflik tenurial di berbagai wilayah Indonesia. Peta tersebut menunjukkan bahwa konflik tersebar di banyak daerah dan umumnya terjadi pada wilayah yang memiliki aktivitas pemanfaatan sumber daya alam yang tinggi.
Melalui penjelasan tersebut, peserta memperoleh pemahaman mengenai kompleksitas persoalan pengelolaan kawasan hutan di Indonesia. Konflik tenurial tidak hanya berkaitan dengan persoalan lahan, tetapi juga menyangkut aspek sosial, lingkungan, dan kepentingan berbagai pihak.
Secara keseluruhan, Julmansyah menekankan pentingnya manajemen penanganan konflik tenurial kawasan hutan secara tepat dan berkelanjutan. Penyelesaian konflik perlu dilakukan melalui penataan batas kawasan yang jelas, kepastian hukum, pengawasan pemanfaatan lahan, serta kerja sama antara pemerintah, masyarakat, dan pihak swasta.
Menurutnya, pengelolaan kawasan hutan yang baik akan membantu menjaga kelestarian lingkungan sekaligus memberikan manfaat bagi masyarakat dan pembangunan nasional.
Kegiatan Sekolah Pilar Muda hari pertama menjadi ruang pembelajaran bagi pelajar dan pemuda untuk memahami persoalan konflik dari berbagai sudut pandang. Tidak hanya membahas konflik sosial dalam kehidupan sehari-hari, kegiatan ini juga memberikan pemahaman mengenai konflik dalam pengelolaan sumber daya alam dan kawasan hutan.
Melalui materi yang disampaikan, peserta diharapkan mampu meningkatkan pemahaman mengenai pentingnya penyelesaian konflik secara bijak serta pentingnya komunikasi dan kerja sama dalam menjaga hubungan sosial maupun kelestarian lingkungan.
Kegiatan Sekolah Pilar Muda hari pertama ditutup pada pukul 21.05 WITA setelah seluruh rangkaian penyampaian materi dan diskusi bersama peserta selesai dilaksanakan. (*)













